Boneka Bukan Hanya Mainan
Pameran "Boneka Bukan Hanya Mainan" yang diselenggarakan Museum Kolong Tangga pada 26 Januari 2017.

Saat senja (26/1) saya mengunjungi Jogja
Gallery di dekat Alun-alun utara Yogyakarta. Saya bukan pecinta boneka, namun
tema “Boneka Bukan Hanya Mainan” dalam poster pameran boneka yang
diselenggarakan Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga membuat saya
tertarik untuk datang. Ditambah lagi ada tulisan “sebuah pameran untuk para
orangtua dan dewasa”. Saya semakin penasaran.
Tak jauh dari tempat
saya berbincang dengan Redy, ada sebuh spot boneka yang bertema Rasisme. Salah
satu gambar bonekanya adalah seorang bayi berkulit hitam yang sedang minum
susu, namun di botol tesebut tertulis kata ‘ink’
atau tinta. Boneka tersebut bernama Nigger Milk dengan pengantar “1950.
Kemanusiaan, beberapa orang Amerika kulit putih. Dalam ulasan di pameran, sebelum
tahun 1900, boneka berkulit hitam tak pernah terpikirkan. Boneka yang berkulit
gelap tidak dianggap sebagai mainan, melainkan sebagai maskot atau kesenangan
belaka. Baru di tahun 1915-1920 saat era Jazz, boneka tersebut dijadikan
mainan. Di Indonesia, amat langka menemukan boneka yang berkulit hitam.
Tak hanya itu, figur
boneka juga bisa kita temukan dalam aspek politik. “Misalkan Jokowi dan Ahok, mereka
menggunakan figur boneka yang kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat,” ujar
Redy. Redy mengatakan boneka dalam aspek politik digunakan sebagai salah satu
alat propaganda dan media politik.
Dua tahun belakangan,
kurator boneka untuk pameran dan tim relawan Kolong Tangga melakukan riset
tentang boneka. Dari riset tersebut, mereka menemukan bahwa di awal
kemunculannya, boneka digunakan untuk hal-hal yang berbau mistis. Salah satu
contohnya boneka Yaruba dari Afrika. Boneka itu hanya berasal dari potongan
kayu. Biasanya dimainkan oleh anak perempuan. Ketika mereka sudah dewasa,
boneka itu diikat dan dikalungkan menjadi jimat. “Mereka percaya boneka itu
akan menjadi pelindung,” papar Redy.
![]() |
| Boneka Yaruba dari Afrika |
Ada juga boneka asal
Jepang yang bernama Teru-teru Bozu. Teru-teru Bozu memiliki arti
bersinarlah-bersinarlah. Boneka yang terbuat dari kain atau kertas putih ini
dipercaya oleh petani di Jepang sebagai jimat yang memiliki kekuatan gaib
karena mampu menciptakan cuaca baik atau mencegah hujan. Biasanya mereka
menggantungnya di luar jendela. Boneka tersebut dibuat tanpa mata, saat cuaca
cerah boneka tersebut akan diberi sepasang mata. Saat cuaca terang, boneka
tersebut dibalik, pertanda petani menginginkan hujan. “Itu simbolik sebenanya, simbolik
antara terang dan hujan,” ujar Redy.
“Memang setelah kita
melihat ini (awal mula boneka-red),
boneka adalah bukan hanya sekedar mainan,” kata Redy. Dalam poster pameran,
panitia sengaja menulis “pameran untuk para orangtua dan dewasa”. Redy
mengatakan ada tujuan tertentu, pertama mereka berharap selepas pameran
orangtua bisa menjelaskan apa yang mereka dapatkan di pameran kepada anaknya. “Inginnya,
mereka bisa memberikan informasi kepada anak-anaknya,” ujarnya. Kedua, Redy
mengatakan ada beberapa konten pameran yang kurang cocok diperlihatkan kepada
anak-anak. Meski demikian, anak-anak tetap bisa berkunjung, hanya saja harus
ada bimbingan orangtua, guru maupun panitia. Tujuannya untuk menjelaskan hal-hal
yang tidak dipahami oleh anak-anak. [Fara]
*Tulisan ini pernah diposting di persmaporos.com pada Januari 2017




Komentar
Posting Komentar