Boneka Bukan Hanya Mainan

Pameran "Boneka Bukan Hanya Mainan" yang diselenggarakan Museum Kolong Tangga pada 26 Januari 2017
 Saat senja (26/1) saya mengunjungi Jogja Gallery di dekat Alun-alun utara Yogyakarta. Saya bukan pecinta boneka, namun tema “Boneka Bukan Hanya Mainan” dalam poster pameran boneka yang diselenggarakan Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga membuat saya tertarik untuk datang. Ditambah lagi ada tulisan “sebuah pameran untuk para orangtua dan dewasa”. Saya semakin penasaran.




          Tak hanya itu, figur boneka juga bisa kita temukan dalam aspek politik. “Misalkan Jokowi dan Ahok, mereka menggunakan figur boneka yang kemudian dibagi-bagikan kepada masyarakat,” ujar Redy. Redy mengatakan boneka dalam aspek politik digunakan sebagai salah satu alat propaganda dan media politik.
       Dua tahun belakangan, kurator boneka untuk pameran dan tim relawan Kolong Tangga melakukan riset tentang boneka. Dari riset tersebut, mereka menemukan bahwa di awal kemunculannya, boneka digunakan untuk hal-hal yang berbau mistis. Salah satu contohnya boneka Yaruba dari Afrika. Boneka itu hanya berasal dari potongan kayu. Biasanya dimainkan oleh anak perempuan. Ketika mereka sudah dewasa, boneka itu diikat dan dikalungkan menjadi jimat. “Mereka percaya boneka itu akan menjadi pelindung,” papar Redy.
Boneka Yaruba dari Afrika
        Ada juga boneka asal Jepang yang bernama Teru-teru Bozu. Teru-teru Bozu memiliki arti bersinarlah-bersinarlah. Boneka yang terbuat dari kain atau kertas putih ini dipercaya oleh petani di Jepang sebagai jimat yang memiliki kekuatan gaib karena mampu menciptakan cuaca baik atau mencegah hujan. Biasanya mereka menggantungnya di luar jendela. Boneka tersebut dibuat tanpa mata, saat cuaca cerah boneka tersebut akan diberi sepasang mata. Saat cuaca terang, boneka tersebut dibalik, pertanda petani menginginkan hujan. “Itu simbolik sebenanya, simbolik antara terang dan hujan,” ujar Redy. 

         “Memang setelah kita melihat ini (awal mula boneka-red), boneka adalah bukan hanya sekedar mainan,” kata Redy. Dalam poster pameran, panitia sengaja menulis “pameran untuk para orangtua dan dewasa”. Redy mengatakan ada tujuan tertentu, pertama mereka berharap selepas pameran orangtua bisa menjelaskan apa yang mereka dapatkan di pameran kepada anaknya. “Inginnya, mereka bisa memberikan informasi kepada anak-anaknya,” ujarnya. Kedua, Redy mengatakan ada beberapa konten pameran yang kurang cocok diperlihatkan kepada anak-anak. Meski demikian, anak-anak tetap bisa berkunjung, hanya saja harus ada bimbingan orangtua, guru maupun panitia. Tujuannya untuk menjelaskan hal-hal yang tidak dipahami oleh anak-anak. [Fara]

*Tulisan ini pernah diposting di persmaporos.com pada Januari 2017

tittle

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mancung-mancung Keturunan Arab

Mata di Tanah Melus: Sebuah Kritik Dari Anak-Anak

BAHASA