Mata di Tanah Melus: Sebuah Kritik Dari Anak-Anak

Sumber Foto: Okky Madasari

Judul               : Mata di Tanah Melus
Penulis             : Okky Madasari
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : Januari 2018
Tebal               : 192 Hlm; 20 cm
ISBN               :  9786020381329

Mainan baru, makanan, dan ponsel baru. Tiga hal yang mungkin kerap menjadi hadiah orang tua kepada anaknya jika sedari bepergian. Namun berbeda dengan Okky Madasari yang memilih menghadiakan novel buat anaknya-Mata Diraya yang baru berusia 3,5 tahun. 22 Januari 2018 kemarin, penulis asal Magetan ini menerbitkan novel keenamnya yang berjudul Mata di Tanah Melus. Selain kepada anaknya, Okky mempersembahkan cerita dengan genre novel anak ini kepada seluruh anak di Indonesia. 

Mulanya saya berpikir bahwa, novel anak hanyalah berujung pada nilai-nilai moral biasa yang ingin disampaikan penulis kepada anak-anak yang membacanya. Kadang bahkan saya berpikir novel atau cerita anak hanyalah penghibur dan pengantar tidur buat anak-anak, tidak lebih dari itu. Namun stigma itu perlahan runtuh kala membuka lembar demi lembar novel Mata di Tanah Melus.

Novel ini berkisah tentang petualangan Matara, seorang anak yang berusia 12 tahun. Mata digambarkan sebagai seorang anak pemberani dan memiliki rasa penasaran yang tinggi layaknya anak-anak pada umumnya. Matara diajak mamanya untuk berlibur ke Belu, sebuah daerah di  NTT (Nusa Tenggara Timur). Namun liburan yang dibayangkannya akan indah, berubah menjadi perjalanan yang menakutkan serta menakjubkan. Ia tersesat di tanah Melus. Sebuah daerah di NTT, yang konon siapa yang terjebak di sana tak akan bisa kembali lagi.

Mata terpisah dengan mamanya saat bermain di padang rumput, dan ia akhirnya ditangkap orang asli Melus. Mata terpaksa akan menjadi orang Melus selamanya. Namun ia menolak dengan memaksa Atok, anak seumurannya yang juga asli Melus untuk mencari mamanya ke luar Melus. Kepergian Atok dan Mata dari Melus ternyata membuat mereka melalui banyak petualangan yang menakutkan.
Pada lima novel sebelumnya, Okky kerap menggunakan alur maju-mundur dalam bercerita. Akibatnya, kadang pembaca dibuat sedikit pusing dan juga penasaran. Ditambah lagi tiap babnya bisa berpuluh-puluh halaman. Saya sempat khawatir hal yang sama terjadi pada novel terbarunya ini. Namun ternyata segmentasi kepada anak-anak membuat Okky membuat jumlah halaman setiap bab menjadi lebih sedikit. Mayoritas alur yang digunakan juga adalah alur maju. 

Okky sangat lihai membangun cerita yang tak hanya sekadar petualangan gadis kecil. Ia memasukkan unsur-unsur kritik yang sangat mudah dimaknai pembaca. Di awal-awal cerita, saya menemukan kritik dari Okky yang direpresentasikan melalui Mata. Dalam pesawat saat perjalanan menuju Belu, Mata berbicara dalam hatinya, “Tentu enak sekali kalau saat sedang berdua seperti ini ia (Mama) bercerita padaku. Cerita tentang barisan kelinci yang meloncat..... Tapi Mama sedang asyik sekali dengan leptop di hadapannya. Ia bahkan tak tahu aku sedang memandanginya (Madasari, 2018: 25).”

Dialog Mata dengan batinnya terlihat biasa, dan mungkin bagi seorang pembaca (anak-anak) itu hanya kekesalan atau curhatan Mata dalam hatinya. Namun adegan ini jelas menunjukkan Okky sedang mengkritik orang tua zaman now yang mungkin terlalu sering menghabiskan waktu dengan teknologi yang dimiliki. Mereka lupa bahwa anak tetaplah anak yang meski zaman telah canggih, mereka tetap membutuhkan orang tua sebagai teman bicara dan belajar.

Mengutip seorang ahli sastra Prancis, Lucian Goldmann yang mengatakan bahwa sebuah karya sastra besar adalah karya sastra yang dijadikan penulis untuk menyampaikan pandangan dunia atau ideologinya. Saya setuju dengan ungkapan ini, karena penulis tidak lebih dari penulis ulang cerita sejarah jika hanya menulis tanpa menyampaikan pandangan dunianya dalam cerita. Okky Madasari menerapkan hal ini, sekalipun yang ditulis adalah novel anak.

Dalam suatu adegan cerita, saat Mata berada di kelas tiga SD dan harus mengerjakan banyak PR sehingga tidak bisa bermain, Mamanya datang ke sekolah dan marah-marah. Ia mengkritik sistem di sekolah yang menyita waktu bermain anak. Puncaknya, Mama memindahkan Mata ke sekolah lain yang memberinya banyak waktu untuk bermain. Adegan ini sekilas ada persamaan dengan banyak kasus di Indonesia, yakni sistem pendidikan yang dibuat negara bahkan orang tua yang kerap membuat anak kehilangan waktu bermainnya. Mereka disibukkan dengan kursus ini itu. Alhasil, anak yang usianya masih tergolong muda tidak memiliki banyak waktu bermain untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitas mereka.

Setia Di Jalan Kemanusiaan

Melalui kelima novelnya yang lebih dulu terbit dan diperuntukkan untuk orang dewasa, Okky kerap mengangkat tema-tema kemanusiaan dalam ceritanya. Mulanya saya berpikir itu akan berhenti ketika ia menulis novel anak. Namun, rupanya Okky tetaplah seorang penulis yang setia dengan tema kemanusiaan.

Okky sebagai penulis sangat sensitif terhadap persoalan yang mungkin digelisahkan anak-anak. Ini dibuktikan dengan beberapa adegan saat Mata sedang berdialog dengan dirinya sendiri untuk curhat tentang hal yang sebenarnya diinginkannya.

Mata sebagai tokoh utama digambarkan sebagai seorang pemberani yang diam-diam memiliki jiwa humanis. Ini terlihat saat Mata dan Atok terjatuh di sebuah sungai penuh buaya. Saat berlari memasuki hutan, mereka bertemu dengan pemburu buaya dari kota. Saat berlari jauh melewati para pemburu itu, Mata berkata pada Atok, “Mereka mau menangkap buaya Tok,” kataku sambil berjalan. “Sudah dari dulu,” kata Atok. “Itulah sebabnya semakin jarang kita lihat buaya. Semua dibunuh, diambil mereka.” “Apakah buaya-buaya yang tadi kita lihat akan mati semua, Tok? (Madasari, 2018: 161)

Selepas pembicaraan itu, mereka berdua berlari balik ke arah sungai dan pura-pura bergabung dengan para pemburu dengan misi menyelamatkan Dewa Buaya dan bangsanya. Saat seekor buaya tertembak, Atok berteriak “Bei Nai! Bei Nai!”-memanggil Dewa Buaya dalam bahasa Melus. Mata yang tak tahu artinya hanya ikut demi menyelamatkan para buaya. Berkat mereka, ratusan buaya muncul dan membelit tubuh para pembunuh dan membawa mereka pergi. Tak ada korban selanjutnya dari tangan jahat para pemburu itu.

Okky menyisipkan rasa kepedulian sesama makhluk hidup melalui adegan di atas. Dalam sebuah wawancara ia mengaku ada hal-hal tersurat yang memiliki banyak pelajaran tentang kehidupan, manusia, dan kemanusiaan dibalik setiap karya sastra. Dan saya rasa hal itu juga berlaku pada Mata di Tanah Melus.

Bagi penulis yang pernah memenangkan Khatulistiwa Literary Award ini, usia anak-anak merupakan usia penting dalam membentuk karakter manusia. Sehingga, ia berharap saat karyanya dibaca oleh anak-anak, mereka bisa tumbuh menjadi manusia yang memiliki pikiran terbuka serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.  

Latar Belakang Nusa Tenggara Timur (NTT)

Novel Mata di Tanah Melus menggunakan latar daerah di NTT. Penggunaan latar NTT terinspirasi dari perjalanan riset yang dilakukan Okky ke NTT bersama anaknya Mata Diraya. Pertemuannya dengan banyak orang menginspirasinya menulis Mata di Tanah Melus. Selain itu, ia juga terinspirasi dari anaknya. Anaknya suka dibacakan cerita, sehingga Okky kerap harus mengarang cerita. Semenjak itu, ia kemudian memiliki ide untuk menulis cerita anak.

Meskipun Okky Madasari berhasil memasukkan kritik kemanusiaan dalam novel ini, namun ada hal yang kurang, yaitu penggunaan bahasa daerah dalam cerita. Sebelumnya, novel pertama Okky yang berjudul Entrok kental dengan bahasa Jawa, dan itu sangat menunjang kenikmatan saat membaca cerita yang berlatar daerah Jawa. Begitu pun dengan novelnya Maryam yang berlatar di Lombok, Okky menyisipkan beberapa bahasa Lombok saat interaksi terjadi antara sesama orang Lombok. Namun di novel ini, bahasa daerah yang digunakan sangatlah sedikit. Kebanyakan interaksi terjadi dalam bahasa Indonesia. Nilai kebudayaan dan keragaman akan semakin terasa jika Okky memperbanyak penggunaan bahasa daerah dalam novel ini.

Novel ini tidak hanya untuk anak-anak, tapi juga direkomendasikan untuk orang dewasa. Selamat berpetualang dengan Matara di tanah Melus. Dan temukan kritik sosial dan kemanusiaan lewat pikiran dan imajinasi anak-anak.   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mancung-mancung Keturunan Arab

BAHASA