Aku, Sekripsi dan Liburan
Tahun ini seperti biasa, ada agenda
mudik lebaran yang jatuh di bulan Juni. Mudik ke kampung halaman dan mudik ke
rumah calon mertua bagi yang akan menikah dalam jangka waktu dekat. Ini tahun
keempat saya tinggal di Yogyakarta.
Sejak tahun lalu, bapak ibu di rumah sudah memberi sinyal, "Sepertinya tahun depan, Wiwi (nama sayang) lebaran di Jogja," ujar bapak saat menelpon. Saat itu saya biasa saja, karena saya selalu berpikir orang tua pasti merindukan anaknya. Rindu itu biasanya diwujudkan dengan kiriman uang tiket agar saya mudik.
Sejak tahun lalu, bapak ibu di rumah sudah memberi sinyal, "Sepertinya tahun depan, Wiwi (nama sayang) lebaran di Jogja," ujar bapak saat menelpon. Saat itu saya biasa saja, karena saya selalu berpikir orang tua pasti merindukan anaknya. Rindu itu biasanya diwujudkan dengan kiriman uang tiket agar saya mudik.
Namun kenyataan tak selalu
membahagiakan, sinyal itu benar. Keputusan orang tua sudah bulat bahwa
saya dan kakak perempuan yang juga kuliah di Jogja tidak mudik. Alasannya
karena faktor ekonomi. Saya harus menghabiskan uang sekitar empat juta untuk
tiket pesawat pulang pergi. Itu belum termasuk oleh-oleh. Belum lagi biaya
untuk taxi ke bandara , taxi ke pelabuhan, dan kapal untuk menyebrang pulau.
Itu belum selesai, saya harus dijemput dengan motor atau naik angkutan umum
agar tiba di rumah. Sungguh perjalanan yang warbiasah, Ambon memang bukan maen.
Ini peringatan bagi kalian yang punya pacar atau gebetan orang Ambon.
Sebetulnya saya galau berat, karena
kerinduan akan kampung halaman harus dipendam entah sampai kapan. Namun, saya
selalu berusaha tegar saat ada yang bertanya,
"Loh, enggak mudik?"
"Enggak nih, ngapain mudik terus,
kelarin skripsi dulu lah. Jogja sudah terlalu nyaman," jawab saya sambil
menahan air mata.
Khawatir saya sedih, orang tua mengirim uang THR
dan meminta saya mudik ke Kebumen. Dengan modal tanya dan google maps, saya dan
kakak perempuan tiba di Kebumen. Enam hari disana, saya begitu nyaman. Keluarga
yang baru saya temui sangat baik dan perhatian. Dua kali kami ke pantai. Lebaran
hari pertama kami lebaran ke rumah beberapa keluarga. Berat badan saya naik 3
kilo, saat pulang ke Jogja. Itu salah satu bukti bahwa saya bahagia di Kebumen. Hal
menyenangkan lainnya saat saya ke pasar dan semua orang menggunakan bahasa
ngapak halus, "Iya mbok," Heuheuheu.
Di hari keenam, saya memutuskan kembali
ke Jogja. Kosan saya berada tepat di samping kampus. Jogja tanpa anak kos
memang hampa. Jalanan sepi, warung-warung belum ada yang buka, kecuali
Indomaret dan saudara-saudara sepupunya. Kosan-kosan putri di area kampus juga
masih sepi.
Tiba di Jogja dan melihat gedung kampus
entah kenapa membuat saya selalu teringat akan sekripsi. Belum lagi, orang tua yang tiap pagi
selalu telpon dan bertanya, "Gimana skripsi? Kira-kira kapan bisa
wisuda?"
"Iya pak, buk, setelah garap LPJ
KKN, insya Allah lanjut ke sekripsi,"
jawab saya dengan hati-hati.
Jangan tanya kenapa selesai LPJ KKN
dulu. Tebal LPJ KKN melebihi tebalnya sekripsi kakak tingkat. Bisa mencapai 150
halaman brouuuu. Belum lagi kalau sudah diprint dan konsultasi ke dosen dan ada
yang keliru, kamu harus print ulang dengan halaman setebal 150. Bayangkan saja
ada 50 LPJ yang diserahkan ke kampus. Akankah Lembaga pengabdian kampus membaca
7.500 lembar itu. Entahlah, mungkin itu adalah salah satu bukti bahwa mahasiswa
pernah KKN. Bagi kamu yang belum KKN, jangan
bahagia dulu dengan upload foto
selfie setiap kegiatan, karena kamu harus banting tulang beberapa hari untuk LPJ.
Oke, kita balik ke sekripsi.
Alhamdulillah saya mendapat dosen pembimbing sekripsi yang warbiasah kerennya.
Beliau mengarahkan saya ke jalan teori yang benar, awalnya saya salah memahami
teori yang sunggguh sulit dipahami. Meski masih garap kajian teori, bagi saya
sekripsi bukanlah sebuah tugas yang berat. Cukup baca buku, baca jurnal, baca
analisis, lalu menulis. Berat memang, jika hanya dikeluhkan namun tidak digarap.
Hahha, sok bijak. Padahal punya sendiri belum
rampung.
Agenda menulis sekripsi saya juga undur
karena ada agenda liburan bersama sahabat yang datang ke Jogja. Saya
harus mengajaknya ke beberapa tempat wisata di Jogja. Hal berkesan yang kami
lakukan adalah ke kebun binatang. Kami pergi kesana di akhir pekan. Rata-rata
yang berkunjung adalah anak-anak TK, SD dan ditemani bapak ibunya. Hanya kami
yang berjalan tanpa menggandeng anak 😂.
Apa
Salah Hewan-hewan Ini?
Di kebun binatang atau sering disebut
Gembira Loka, ada beberapa hal yang menarik perhatian saya. Kami mengunjungi
semua jenis hewan, dari unggas, reptile, hingga
unta yang dibawa dari gurun pasir. Ada beberapa spot hewan yang sepi karena
hanya dilihat sekilas.
Pertama adalah Babi. Saat sedang melihat
babi, seorang anak yang berdiri tak jauh dari saya berterik, "Hih
babi," dia kemudian berlari dan pindah ke spot hewan lain. Rata-rata orang
yang saya perhatikan melakukan hal yang sama. Jarang ada yang mengambil gambar-gambar babi, apalagi
sampai selfie. Saya tak tahu apa
salah babi.
Kedua adalah ular. Saya termasuk orang
yang takut dan tidak suka ular. Entah kenapa saya tidak tahu. Ada bermacam ular
yang dipajang. Dari yang panjangnya
5 cm hingga 1 meter. Seperti hewan unggas, di spot ular juga disediakan spot foto
bersama ular. Disinilah spot foto paling sepi yang saya temukan. Berbeda dengan
spot foto orang utan dan burung. Saya termasuk orang yang tidak ingin berfoto
dengan ular. Entah kenapa pikiran saya sudah terbentuk bahwa ular itu
menakutkan. Beberapa anak kecil yang saya perhatikan juga terlihat takut. Keluarga
ular, maafkan aku.
Ketiga adalah gajah. Gajah juga termasuk
spot hewan yang tidak terlalu ramai dikunjungi. Dari jauh saya melihat seekor
gajah besar dirantai di kakinya. Seorang perempuan di samping saya dengan wajah
miris berkata,
"Kasihan ya gajah, dia tidak bebas hidup di alam, dia harus dirantai
seperti itu." Beberapa orang di samping saya juga demikian, mereka tidak
sebahagia saat melihat angsa dan merak yang cantik. Juga tidak seperti melihat
tupay dan kancil.
Diakhir perjalanan, saya merenung.
"Dibalik kebahagiaan pengunjung, ada makhluk hidup yang tidak bebas hidup
menikmati alam seperti manusia. Manusia dengan bahagia berfoto ria dengan
mereka yang mungkin saja dalam hati kecilnya ingin hidup dan bermain bersama
keluarga di habitat yang seharusnya
mereka tempati,
bukan kebun binatang."
Sebelum meninggalkan kebun binatang,
kami mengabadikan beberapa momen. Saya kembali ke kos dan memulai rutinitas
laporan dan sekripsi. Ini liburan saya,
bagaimana liburanmu?

Komentar
Posting Komentar