Coba-coba Bicara Okky Madasari

          
      Dua tahun lalu, di sebuah toko buku aku berkenalan dengan Okky Madasari. Ya, kita berkenalan lewat novel ketiganya, Maryam. Sebelumnya aku masih asing dengan penulis asal Magetan ini. Kalau tidak salah beberapa kali memang namanya disebut oleh dosenku di kelas Sosiologi Sastra dan Sastra Banding. Ia disebut-sebut karena novelnya Maryam memenangkan Khatulistiwa Literary Award pada tahun 2012. Menurut info yang sampai ke telinga aku, Okky Madasari disebut sebagai Pramoedya Ananta Toer masa kini. Karena penasaran, aku kemudian mencari karya-karya Okky.
            Siang itu tak sengaja, aku menjumpai Maryam di Gramedia Expo. Karena harganya yang murah dan rasa penasaranku yang tinggi aku kemudian membelinya. Tidak menunggu waktu yang lama, aku langsung melahap Maryam. Alur maju-mundur yang digunakan Okky ampuh membuat aku penasaran tentang kisah perempuan yang bernama Maryam. Ia disebut-sebut mengalami kisah hidup yang rumit karena lahir menjadi seorang Ahmadiyah. Usai sekolah di Surabaya, Maryam merantau ke Jakarta dan kerja disana.
            Seperti anak muda pada umumnya, Maryam mulai memadu kasih dengan Alam. Alam beragama Islam (Islam kebanyakan menurut Okky). Karena pernah patah hati dan sudah nyaman bersama Alam, Maryam tak lagi peduli dengan keluarganya yang sudah pasti menolak ia menikah dengan lelaki bukan Ahmadiyah. Bagi bapak Maryam, orang-orang diluar Ahmadiyah selalu merasa diri paling benar dan akan menganggap Ahmadiyah itu sesat. Pikiran tersebut benar, saat menikah diam-diam dengan Alam, keluarga Alam meminta Maryam meninggalkan Ahmadiyah dan bertobat. Demi cintanya pada Alam, Maryam rela mengucapkan dua kalimat syahadat ulang di hari pernikahannya, sesuai permintaan keluarga Alam. Setelah menikah Maryam selalu merasa tidak diterima oleh keluarga Alam. Mereka bercerai.
            Putus asa dan kecewa. Maryam akhirnya memilih kembali ke Lombok, Nusa Tenggara Barat. Ya, Lombok adalah kampung halamannya. Okky menamainya Desa Gerupuk. Disana Maryam mendengar kabar buruk. Beberapa tahun silam keluarganya meninggalkan Gerupuk. Mereka dituduh sesat karena menganut Ahmadiyah. Beberapa desa selain Gerupuk juga mengalami hal demikian. Jamaah Ahmadiyah diusir dan mengalami kekerasan bila tak meninggalkan desa mereka. Beberapa kali mereka berpindah tempat tinggal, namun hal serupa masih terjadi. Pengusiran, hujatan, pembakaran, pengrusakan. Semua itu dilakukan warga lokal dengan arahan si Tuan Guru di Lombok.
            Kisah hidup Maryam adalah kisah nyata. Beberapa media memuat kejadian pembakaran di Lombok telah terjadi sejak tahun 1999. Selama tahun 1999-2006 pengusiran dan pembakaran terjadi di Lombok Timur dan Lombok Barat. Alhasil jamaah Ahmadiyah harus meninggalkan rumah mereka dan mengungsi di Wisma Transito, Mataram. Hingga saat ini kehidupan mereka berlangsung di Wisma Transito. Tidak ada kepastian kehidupan yang layak dari negara.
            Dalam diskusi yang  bertajuk Menulis sebagai Tanggungjawab (Februari 2017) di Yogyakarta, Okky mengatakan novel Maryam terinspirasi oleh kisah hidup sahabatnya. Bermula dari kisah tersebut, Okky terpantik untuk melakukan penelitian selama enam bulan di Lombok. Ia mengunjungi Wisma Transito dan bertemu dengan tokoh-tokoh Ahmadiyah. Kisah Maryam yang digambarkan Okky, tidak jauh berbeda dengan kejadian di kehidupan nyata.
            Beberapa orang yang saya ceritakan tentang Maryam langsung berujar,”Okky Madasari mungkin seorang Ahmadiyah.” Tapi entah kenapa sejak membaca Maryam aku tidak berpendapat seperti itu. Aku menduga novel ini sedang menyuarakan suara kaum minoritas di Indonesia. Aku sampai pernah dikira Ahmadiyah saat akan mengajukan novel ini untuk skripsi (omaigat). Terlepas dari dugaan-dugaan demikian, yang sebetulnya menjadi pertanyaan aku adalah kenapa Ahmadiyah?
            Aku menemukan titik terang saat ikut diskusi. Okky berkata, Maryam bukanlah novel tentang Ahmadiyah. Melainkan novel tentang diskriminasi yang dialami kaum minoritas di Indonesia. Mungkin saja Okky memilih Ahmadiyah hanyalah sebagai contoh. Tetap saja aku masih penasaran, “Kenapa mesti Ahmadiyah?” tapi sudahlah itu tak terlalu penting. Yang penting menurutku adalah membahas gagasan yang diusung penulis alumni UGM ini.
            Selain menyuarakan suara kaum minoritas, Okky sebetulnya sedang mengkritik kelompok Ahmadiyah yang cenderung eksklusif. Okky mengamini hal ini. Menurutnya siapa saja di dunia ini memiliki sisi baik dan buruknya, olehnya itu ia juga ingin mengkritik sisi yang harus diperbaiki oleh kaum minoritas di Indonesia.
           86 juga memiliki kisah yang tak jauh berbeda. Okky menghadirkan Arimbi, seorang pegawai kantoran yang terjebak kasus korupsi bersama atasannya. Bos Arimbi  masuk penjara karena menerima suap. Di penjara ia bisa menikmati fasilitas mewah. Berbeda dengan Arimbi yang tak punya apa-apa. Ia harus menjalin hubungan sesama jenis di dalam penjara dan menjual narkoba demi melanjutkan hidupnya usai keluar penjara. Arimbi digambarkan sebagai gadis desa yang pada akhirnya menganggap sogokan adalah hal biasa dan harus dilakukan agar semua urusan bisa lancar. Pokoknya yang penting 86, semua urusan jadi beres.
           Saat membaca 86, aku seperti sedang melihat sekeliling. Mau kerja tapi tidak lolos karena tes masuknya sulit, yasudah gampang. Kamu punya berapa? Mau masuk kuliah jurusan nomor 1 tapi gak lolos, gampang kamu bisa ketemu orang ini, yang penting siap segini. Pokoknya yang penting 86 (sogokan/pelicin), semua urusan beres. 
tittle

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mancung-mancung Keturunan Arab

Mata di Tanah Melus: Sebuah Kritik Dari Anak-Anak

BAHASA